Arus Balik Gelombang Kedua di Boyolali 40 Ribu Kenderaan Melintas Terpantau Lancar, Senin (30/3/26).BOYOLALI, WARTAGLOBAL.id --
Arus balik Lebaran 2026 gelombang kedua di wilayah Boyolali tercatat berlangsung lancar meski volume kendaraan cukup tinggi. Berdasarkan data, puncak arus balik terjadi pada Sabtu (28/3/2026) dengan jumlah kendaraan yang melintas mencapai sekitar 40.000 unit.
Kasat Lantas Polres Boyolali, AKP Tri Afandi, menyampaikan bahwa kondisi lalu lintas saat puncak arus balik tetap terkendali tanpa adanya kejadian menonjol.
“Untuk volume kendaraan yang melintas di tol wilayah Boyolali tercatat pada puncak gelombang II ada 40.000 kendaraan. Puncak arus baliknya terjadi pada Sabtu 28 Maret 2026,” ujarnya saat dihubungi, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, kepadatan pada gelombang kedua cenderung lebih landai dibandingkan gelombang pertama. Hal ini dipengaruhi oleh sebagian masyarakat yang telah kembali lebih awal ke tempat kerja sejak 25 Maret 2026.
Dalam pengamanan arus balik, Satlantas Polres Boyolali menyiagakan personel selama 24 jam di sejumlah titik strategis, termasuk di rest area KM 487 B, guna mengantisipasi kemacetan dan kecelakaan.
“Kami juga menyiapkan tim urai untuk memantau dan mengurai kepadatan di jalur tol dan rest area bahkan setelah Pospam ditutup saat Operasi Ketupat Candi berakhir,” kata dia.
Selain pengamanan di jalur tol, kepolisian juga memetakan sejumlah titik rawan kecelakaan di ruas Tol Semarang–Solo, khususnya di KM 475 hingga KM 484. Area tersebut menjadi perhatian karena berpotensi terjadi kepadatan akibat antrean kendaraan.
“Jalur yang rawan macet berpusat di KM 475-KM 484 Tol Semarang-Solo. Titik kritis utama meliputi area sekitar rest area akibat antrean masuk, GT Banyudono dan GT Boyolali. Kepadatan tinggi sering terjadi akibat antrean kendaraan,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Boyolali, Insan Adi Asmono, mengungkapkan bahwa secara umum kondisi lalu lintas selama periode Lebaran, baik arus mudik maupun balik, berjalan aman dan terkendali.
“Sedangkan, kondisi puncak arus balik pada 27-28 Maret tercatat di jalur arteri ada sekitar 145.280 kendaraan atau sekitar 72.000 kendaraan per hari. Di jalur tol selama dua hari ada 61.823 kendaraan,” kata dia.
Secara keseluruhan, volume kendaraan selama masa Lebaran mencapai antara 728.000 hingga 893.000 kendaraan, dengan rata-rata harian di jalur arteri utama berkisar 50.000 hingga 73.000 kendaraan.
Meski demikian, sejumlah titik di jalur arteri masih mengalami kepadatan, seperti di traffic light Karanggede, Terminal Penggung, Mangu, Simpang Gejikan, hingga kawasan Tugu Jagung.
“Kepadatan bersifat situasional dan temporer, terutama pada jam-jam puncak pergerakan kendaraan,” kata dia.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan fenomena over-saturation, di mana volume kendaraan pada jam sibuk melampaui kapasitas simpang sehingga menyebabkan antrean.
Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dengan pengaturan lampu lalu lintas, tetapi perlu pengembangan jalur alternatif serta kajian lanjutan menggunakan analisis lalu lintas.
“Ke depan, diperlukan kajian lanjutan melalui analisis Origin–Destination, simulasi lalu lintas misalnya VISSIM, serta evaluasi aspek lahan dan sosial, guna meningkatkan kinerja simpang dan menjaga level of service LOS pada periode arus puncak,” kata dia.
Insan juga menambahkan, sempat terjadi gangguan berupa padamnya lampu lalu lintas di kawasan 408, Penggung, dan Tugu Jagung akibat sambaran petir pada periode 27–28 Maret 2026. Namun, kondisi tersebut segera ditangani bersama Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD).
“Secara keseluruhan, pelaksanaan angkutan Lebaran 2026 di Kabupaten Boyolali menunjukkan bahwa perencanaan dan pengendalian lalu lintas berjalan efektif, didukung sinergi lintas sektor serta partisipasi aktif masyarakat,” tutupnya. (Joko S)
KALI DIBACA