
Sapto Heru Ananta yang akrab disapa Mbah Brewok seorang pensiunan Guru mendedikasikan hidupnya jadi pegiat nilai-nilai budaya Jawa melalui Pendidikan, Kesenian dan Pembinaan Karakter.
JEPARA, WARTAGLOBAL.id --
Di saat banyak generasi muda larut dalam budaya digital dan semakin jauh dari akar tradisinya, seorang pensiunan guru di Jepara memilih menjadi penjaga warisan leluhur. Ia adalah Sapto Heru Ananta, atau yang akrab disapa Mbah Brewok, pegiat budaya yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Jawa melalui pendidikan, kesenian, dan pembinaan karakter.
Melalui Sanggar Sapto Heru Ananta yang dirintis sejak 2008, Mbah Brewok tidak sekadar mengajarkan seni. Ia membangun ruang belajar budaya bagi anak-anak dan masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti mocopat, karawitan, tari tradisional, ketoprak, puisi, literasi, hingga pembuatan mainan edukatif berbasis tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Petruk, barongan, dan macan kurung.
Baginya, tokoh-tokoh tersebut bukan sekadar simbol hiburan, melainkan media pendidikan karakter yang mengajarkan kebijaksanaan, kejujuran, keberanian, kesederhanaan, dan penghormatan kepada sesama.
Di lingkungan sanggar, ia juga mengembangkan PUDING (Perpustakaan Dinding) yang berisi pengetahuan budaya Jawa, tata krama, filosofi kehidupan, serta nilai-nilai moral yang diwariskan para leluhur.

Menurut Mbah Brewok, ancaman terbesar budaya Jawa saat ini bukanlah perubahan zaman, melainkan hilangnya kepedulian untuk mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Ia mengaku prihatin melihat banyak anak muda mengenal budaya luar dengan baik, tetapi tidak memahami budaya daerahnya sendiri. Ironisnya, banyak warga asing justru datang ke Indonesia untuk belajar gamelan, sinden, dan seni tradisional Jawa.
"Budaya bukan benda mati. Budaya adalah identitas, karakter, dan jati diri bangsa. Kalau generasi muda tidak mengenalnya, maka yang hilang bukan hanya kesenian, tetapi juga nilai kehidupan yang diwariskan leluhur," ujarnya.
Mbah Brewok menjelaskan bahwa banyak tradisi Jawa sesungguhnya mengandung pelajaran dan pesan moral yang mendalam. Ritual, simbol, bunga, tembang, maupun berbagai tradisi yang selama ini dianggap kuno sebenarnya mengajarkan manusia tentang kesabaran, pengendalian diri, penghormatan kepada alam, hubungan sosial, dan kedekatan dengan Tuhan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang budaya hanya sebagai pertunjukan seremonial, tetapi sebagai sarana pendidikan karakter yang relevan hingga saat ini.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Mbah Brewok menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan warisan budaya. Justru kemajuan harus berjalan berdampingan dengan pelestarian identitas bangsa.
Ia juga berharap pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat memberikan ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni dan budaya untuk berkarya, mengajar, dan mentransfer pengetahuan kepada generasi muda.

Pesan yang terus ia gaungkan sederhana namun mendalam: jangan biarkan anak cucu menjadi asing di tanah budayanya sendiri.
Sebab ketika budaya hilang, yang sesungguhnya hilang bukan sekadar tarian, gamelan, atau wayang, melainkan nilai-nilai luhur yang selama ratusan tahun membentuk karakter masyarakat Indonesia.
"Nguri-uri budaya bukan soal menjaga masa lalu, tetapi menyiapkan masa depan yang tetap memiliki jati diri," demikian pesan moral yang terus diperjuangkan Mbah Brewok dari sudut kecil Jepara untuk Indonesia. (Petrus)
KALI DIBACA