Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng saat meninjau banjir belum lama ini.SEMARANG, WARTAGLOBAL.id --
Menghadapi puncak musim hujan Januari–Februari 2026, Pemkot Semarang menyiapkan serangkaian strategi terintegrasi. Di antaranya dengan memperlebar outlet pembuangan air ke laut dari 10 meter menjadi 40 meter. Kemudian pemutakhiran sistem polder, melalui pengerukan dan pendalaman puluhan waduk.
Pemerintah Kota Semarang mengklaim tak ingin mengulang kesalahan dalam menghadapi ancaman banjir. Memasuki awal tahun 2026, langkah antisipasi yang diambil tidak lagi sebatas respons darurat, melainkan diarahkan pada pembenahan infrastruktur secara permanen di titik-titik rawan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan, bahwa pengalaman banjir pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting untuk mengubah pendekatan penanganan banjir di Kota Atlas.
“Kami tidak hanya menyiapkan alat, tetapi membenahi akar masalahnya," kata Agustina baru baru ini.
Salah satu langkah paling nyata adalah pelebaran outlet pembuangan air di kawasan Kaligawe dari sebelumnya hanya 10 meter menjadi 40 meter.
“Ini adalah komitmen kami untuk solusi jangka panjang, bukan sekadar tambal sulam,” tegasnya.
“Selain itu juga penambahan armada pompa, yang ditempatkan di titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan. Kami siaga 220 unit pompa, terdiri dari 119 pompa tetap dan 101 pompa portabel yang siap digerakkan sewaktu-waktu,” tegasnya.
KOLABORASI LINTAS INSTANSI
Kolaborasi lintas instansi, melibatkan BBWS, BPJN, Kodim 0734, dan instansi terkait lainnya juga diperkuat. Termasuk berharap peran aktif masyarakat, dengan menjaga kebersihan saluran air dan lingkungan sekitar.
Puncak kesiapsiagaan tahun ini ditandai dengan rampungnya sejumlah proyek strategis di wilayah rawan genangan.
Di Kaligawe, outlet pembuangan air yang selama ini kerap tersumbat karena sempit kini telah diperlebar empat kali lipat. Perubahan ini diharapkan mampu memperlancar aliran air menuju laut dan mencegah genangan parah seperti yang sering terjadi sebelumnya.
PERKUAT SISTEM POLDER
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang juga memperkuat sistem polder dengan melakukan pengerukan dan pendalaman puluhan waduk mini di kawasan Mijen dan sekitarnya, termasuk di Jatingaleh. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya tampung air secara signifikan saat curah hujan tinggi.
Untuk melengkapi infrastruktur tetap, DPU juga memperkuat armada pompa dengan teknologi baru yang ditempatkan di titik-titik krusial. Total 220 unit pompa kini disiagakan, terdiri atas pompa rumah pompa dan pompa portabel yang bisa segera dipindahkan ke lokasi darurat.
NORMALISASI DAN PEMBERSIHAN SALURAN
Normalisasi dan pembersihan saluran utama juga dilakukan secara intensif di kawasan Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Pandanaran, hingga sepanjang Banjir Kanal Timur guna memastikan aliran air tetap lancar.
Agustina menekankan bahwa keberhasilan pengendalian banjir tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
“Ketika ada kendala di wilayah kewenangan pemerintah pusat, Gubernur langsung turun tangan dan memerintahkan perbaikan bersama Kodim. Ini gotong royong yang konkret,” ungkapnya.
KOORDINASI RUTIN TERUS TERJALIN
Koordinasi rutin terus dijalin dengan BBWS, BPJN, Kodim, dan instansi terkait agar respons di lapangan berjalan cepat dan terintegrasi.
Di luar upaya teknis, Agustina mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.
“Kesiapan teknis pemerintah harus diimbangi kesadaran kolektif warga. Jangan buang sampah ke saluran air dan jaga kebersihan lingkungan,” pesannya. (Hans)
KALI DIBACA
