Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna hadir dalam gelaran Jepara International Furniture Buyer Week (JIF-BuyWe) 2026 yang digelar di Gedung wanita Jepara, Minggu (8/3/26).JEPARA, WARTAGLOBAL.id --
Deretan kursi ukir, meja kayu solid, hingga desain furnitur modern memenuhi ruang pamer pada gelaran Jepara International Furniture Buyer Week (JIF-BuyWe) 2026 yang digelar di Gedung wanita Jepara, Minggu, 8 Februari 2026. Dimulai dari tanggal 8 maret hingga 11 maret dengan diikuti 45 peserta pameran baik yang di meeting point maupun yang di in house visit, Senin (9/3/2026).
Di tengah aktivitas para pelaku industri dan buyer yang datang dari berbagai daerah, satu pesan utama mengemuka: masa depan furnitur Jepara bergantung pada kekuatan ekosistem yang dibangun bersama.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Ketua DPRD Kabupaten Jepara Agus Sutisna, Ketua Konsorsium Jepara Gerak Andang Wahyu Triyanto, jajaran Forkopimda Kabupaten Jepara, perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Direktur Utama Bank Jateng, Ketua BPD Hipmi Jawa Tengah, para ketua asosiasi dan sentra industri se-Kabupaten Jepara, serta pelaku usaha furnitur.
Di tengah momentum itu, Ketua DPRD Kabupaten Jepara Agus Sutisna menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menjaga sekaligus memperkuat ekosistem industri furnitur Jepara agar mampu bersaing di tingkat global.
“Industri furnitur dan ukir Jepara bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga warisan budaya, identitas daerah, sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat. Karena itu, keberlanjutannya membutuhkan dukungan kebijakan dan ekosistem yang kuat dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Menurut Agus, kehadiran JIF-BuyWe menjadi ruang penting untuk mempertemukan para pelaku industri dengan buyer secara langsung. Melalui forum ini, para pembeli tidak hanya melihat produk di ruang pamer, tetapi juga dapat mengunjungi showroom dan sentra industri melalui kegiatan in-house visit, sehingga dapat menyaksikan secara langsung kualitas produksi dan keterampilan para perajin Jepara.
Ia menilai pendekatan tersebut menjadi strategi efektif untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi furnitur Jepara di pasar global.
“Dengan menghadirkan buyer langsung ke Jepara, kita tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga memperlihatkan kekuatan tradisi, kreativitas, dan inovasi para perajin kita,” kata Agus.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pemerintah daerah terus berupaya memperkuat ekosistem industri melalui berbagai program penguatan pelaku usaha, peningkatan kapasitas UMKM, hingga pengembangan sentra industri. Upaya tersebut bertujuan agar industri furnitur Jepara tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berdaya saing global.
Dalam kesempatan yang sama, Agus juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan JIF-BuyWe 2026, mulai dari Konsorsium Jepara Gerak, pemerintah provinsi, lembaga keuangan, asosiasi industri hingga para pelaku usaha.
Menurutnya, kolaborasi inilah yang menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri furnitur Jepara di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Jepara sudah lama dikenal sebagai Kota Ukir. Tantangan kita sekarang adalah memastikan reputasi itu terus terjaga, sekaligus menjadikannya kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Melalui JIF-BuyWe 2026, Jepara kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat industri furnitur Indonesia yang memiliki reputasi internasional, sebuah kota kecil dengan tradisi besar yang terus menatap pasar dunia. (Maskur).
KALI DIBACA